11 Oktober 2012

Gedung GEBEO (PLN)Bandung

Pada tahun 1905, Bandung telah memiliki sebuah perusahaan yang mengelola penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan publik bernama Bandoengsche Electriciteit Maatschappij (BEM) yang kemudian berganti nama menjadi Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO N.V.) pada tahun 1920. Penggunakan nama “Gemeenschappelijk” pada perusahaan ini menunjukan bahwa perusahaan ini tidak murni milik swasta, melainkan sebagian sahamnya dimiliki oleh pemerintah.


Gedung Gebeo (PLN sebelum pindah)

Walaupun demikian Gebeo adalah perusahaan yang hanya mengurusi pendistribusian listrik, sedangkan pengelolaan pembangkit listrik dilakukan pemerintah lewat dinas Waterkracht en Electriciteit. Pada tahun 1930, Satu-satunya pembangkit listrik yang dimiliki Swasta adalah yang terletak di Cianjur, mampu menyediakan 342 KW listrik, hanya memenuhi sangat sedikit dibandingkan seluruh kebutuhan perusahaan. Kebutuhan listrik lainnya dipenuhi oleh pembangkit2 listrik tersebut tersebar di seantero Jawa Barat, seperti PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok/Dago, PLTA Ubruk dan Kracak. Gedung ini terletak di Bragaweg samping rel kereta api di depan Bank Indonesia. Kini gedung tersebut dipakai oleh salah satu Bank Syariah, setelah lama kosong

Kemudian pindah ke Jl. Asia Afrika yang gedungnya diarsiteki oleh Gmelig Meyling dan dibangun tahun 1940. Fakta ini sekaligus meluruskan anggapan yang menyebutkan bahwa gedung GEBEO yang berada di atas “sumur bandung” ini sebagai karya dari Wolff Schoemaker. Pada kenyataanya, biro arsitek Schoemaker memang sempat merancang desain pengembangan gedung GEBEO ini, tapi rancangan tersebut hilang pada masa konfrontasi Belanda-Republik, sehingga akhirnya desain pengembangan Gedung Gebeo ini kembali dilakukan oleh Gmelig Meyling pada tahun 1948.

Bangunan kantor ini sekarang dikenal dengan PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten (Sumur Bandung) yang beralamat di Jl. Asia Afrika no. 63 . Kantor ini juga sering dikunjungi orang-orang yang ingin meminta berkah dan penasaran tentang cerita  “Sumur Bandung” yang berada di bagian bawah (basement) gedung. Sedangkan halamannya digunakan sebagai lapak bagi beberapa penjual buku bekas.


Sumber : Komunitas Aleut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar